Senin, 04 Januari 2016

Puisi Erangan Bangsa

Erangan Bangsa


Iindonesiaku,

dahulu engkau adalah hal yang paling kubanggakan dalam hidup ini

Meski hingga kini aku tetap bangga

Padamu Indonesiaku

Namun, Indonesiaku yang dulu,

Kini telah sirna, pudar sudah semangat

Perjuangan dalam bangsa ini.

Indonesiaku yang sekarang bukanlah Indonesia yang dulu

Indonesiaku,

Tengoklah bangsamu ini!

Bangsa yang telah membangunmu!

Kini, kekecewaan pecah sudah,

Di hati kami mengeluh

Kami selalu menahan rasa sakit di hati ini.

Bukan!

Bukan karenamu Indonesiaku bukan!,

Tapi tengoklah para pejabat

yang memegang hak atas kekuasaan,

justru menodai negeri ini,

Indonesiaku.

Oleh: Nisrina


Indahnya Bunga Anggrek

Cerita motivasi
Indahnya Bunga Anggrek



Oleh Andrie Wongso

Alkisah, di sebuah padepokan yang asri, tampak sang Guru sedang bersantai memandangi pohon-pohon bunga anggrek yang tertata artistik, terawat, dan sedang mekar dengan indahnya.

Pada suatu hari ketika hendak berkelana, dia berpesan kepada muridnya, "Anakku, gurumu akan pergi mengunjungi kakek guru dan saudara-saudara seperguruan lainnya. Tetaplah rajin belajar dan berlatih. Dan jangan lupa untuk hati-hati merawat tanaman bunga anggrek kesayangan gurumu ini."
Murid yang menerima pesan itu, dengan teliti memelihara pohon-pohon bunga anggrek tersebut. Namun, pada suatu hari, ketika sedang merapikan dan menyiram bunga-bunga anggrek, tanpa sengaja dia menyenggol rak-rak pohon tersebut. Prang! Bunyi keras mengiringi berjatuhannya pot -pot bunga anggrek yang pecah berantakan dan tanaman anggrek pun berserakan di sekitarnya.
Murid itu dengan rasa panik dan ketakutan berusaha membenahi sebisanya. Tetapi apa daya, hanya sedikit yang terselamatkan. Dengan rasa was-was, dia pun menunggu gurunya pulang untuk meminta maaf dan siap menerima hukuman apapun yang akan diberikan nantinya.
Setelah sang Guru pulang dan mendengar kabar itu, ia lalu memanggil para muridnya. "Guru, ampun Guru! Saya mengaku salah telah mengecewakan dan merusak bunga anggrek kesayangan Guru. Saya siap menerima hukuman..." sela si murid dengan penuh sesal.
Sambil tersenyum bijak sang Guru berkata, "Muridku. Memang bunga anggrek adalah bunga kesukaan Gurumu ini, maka Guru merawatnya dengan baik sehingga berbunga dengan indah. Perlu kamu ketahui, Gurumu menanam bunga anggrek, alasan utamanya adalah untuk menikmati indahnya warna-warni bunga-bunga anggrek sekaligus untuk memperindah lingkungan di sekitar sini. Bukan demi untuk marah Guru menanam pohon anggrek ini.
Walaupun menyukai bunga anggrek tapi Guru tidak terikat akan bunga-bunga itu, karenanya Guru tidak perlu marah karena anggrek. Tetapi lain kali mengerjakan apapun harus lebih hati-hati. Bunga anggrek bisa ditanam lagi, tapi ketidakhati-hatian adalah sikap yang harus selalu diwaspadai karena bisa berakibat negatif dan berdampak buruk bagi siapa pun."
Netter yang Luar Biasa!

Perkataan sang Guru sungguh benar, "Bukan demi untuk marah menanam tanaman anggrek".
      Kita pun bisa belajar dari sini. Seandainya amarah sedang menguasai kita, cobalah berhenti sejenak dan berpikir, "Bukan demi marah menjadi sahabat," "Bukan demi marah menjadi suami istri," dan "Bukan demi marah melahirkan dan mendidik anak."
     Dengan demikian, sikap toleransilah yang akan muncul. Kemarahan akan mencair dan damai pun akan menyertai hati kita. Ketika kita hendak bertengkar dengan sahabat, orang rumah, atau keluarga, hendaklah perlu diingat, perjumpaan yang telah terjadi, bukan demi untuk rasa marah, tapi sepatutnya untuk disyukuri.

Mari kita semua belajar untuk berlapang dada sehingga kehidupan akan damai penuh sejahtera!

Referensi:


Kekecewaan dan Penderitaan Dapat Mengubah Orang Biasa menjadi Orang Luar Biasa

Cerita motivasi dan insprirasi

Kekecewaan dan Penderitaan Dapat Mengubah Orang Biasa menjadi Orang Luar Biasa

Pada suatu hari seekor anak kerang di dasar laut mengadu dan mengeluh pada ibunya sebab sebutir pasir tajam memasuki tubuhnya yang merah dan lembek. “Anakku,” kata sang ibu sambil bercucuran air mata, “Tuhan tidak memberikan pada kita, bangsa kerang, sebuah tangan pun, sehingga Ibu tak bisa menolongmu.”
Si ibu terdiam, sejenak, “Sakit sekali, aku tahu anakku. Tetapi terimalah itu sebagai takdir alam. Kuatkan hatimu. Jangan terlalu lincah lagi. Kerahkan semangatmu melawan rasa ngilu dan nyeri yang menggigit. Balutlah pasir itu dengan getah perutmu. Hanya itu yang bisa kau perbuat”, kata ibunya dengan sendu dan lembut.
Anak kerang pun melakukan nasihat bundanya. Ada hasilnya, tetapi rasa sakit bukan alang kepalang. Kadang di tengah kesakitannya, ia meragukan nasihat ibunya. Dengan air mata ia bertahan, bertahun-tahun lamanya. Tetapi tanpa disadarinya sebutir mutiara mulai terbentuk dalam dagingnya. Makin lama makin halus. Rasa sakit pun makin berkurang. Dan semakin lama mutiaranya semakin besar. Rasa sakit menjadi terasa lebih wajar.
Akhirnya sesudah sekian tahun, sebutir mutiara besar, utuh mengkilap, dan berharga mahal pun terbentuk dengan sempurna. Penderitaannya berubah menjadi mutiara, air matanya berubah menjadi sangat berharga. Dirinya kini, sebagai hasil derita bertahun-tahun, lebih berharga daripada sejuta kerang lain yang cuma disantap orang sebagai kerang rebus di pinggir jalan.
Cerita di atas adalah sebuah paradigma yang menjelaskan bahwa penderitaan adalah lorong transendental untuk menjadikan “kerang biasa” menjadi “kerang luar biasa”. Karena itu dapat dipertegas bahwa kekecewaan dan penderitaan dapat mengubah “orang biasa” menjadi “orang luar biasa”.
Banyak orang yang mundur saat berada di lorong transendental tersebut, karena mereka tidak tahan dengan cobaan yang mereka alami. Ada dua pilihan sebenarnya yang bisa mereka masuki: menjadi `kerang biasa’ yang disantap orang, atau menjadi `kerang yang menghasilkan mutiara’. Sayangnya, lebih banyak orang yang mengambil pilihan pertama, sehingga tidak mengherankan bila jumlah orang yang sukses lebih sedikit dari orang yang `biasa-biasa saja’.
Mungkin saat ini kita sedang mengalami penolakan, kekecewaan, patah hati, atau terluka. Cobalah untuk tetap tersenyum dan tetap berjalan di lorong tersebut, dan katakan dalam hatimu “Air mata ku diperhitungkan Tuhan dan penderitaanku ini akan mengubah diriku menjadi mutiara!

Written By Phen Efendi
  

Akar Permasalahan Rendahnya Mutu Pendidikan dan Rendahnya Relevansi Pendidikan di Indonesia.

Akar Permasalahan Rendahnya Mutu Pendidikan dan 

Rendahnya Relevansi Pendidikan di Indonesia.


Menurut republika.co.id (2012), ada tujuh penyebab yaitu 1. pembelajaran hanya pada buku paket yang menjadi acuan, guru jarang sekali mencari sumber referensi lain,  2. metode berceramah satu arah inilah yang banyak dipakai oleh guru, 3. kurangnya sarana belajar didaerah-daerah pelosok, 4 .aturan yang mengikat, sekolah lebih cenderung menggunakan kurikulum dari pemerintah seharusnya sekolah juga mempunyai kurikulum sendiri sesuai dengan karakteristiknya, 5. Guru tidak menanamkan diskusi dua arah, 6. Metode pertanyaan terbuka tidak dipakai, 7. Budaya mencontek, tidak hanya dilakukan oleh siswa namun gurupun melakukannya pada tes-tes pegawai negeri.
        Dalam artikel Imanuel M. Rustijono’s Site (Kualitas pendidikan Indonesia dan permasalahannya, 10 september 2011) menyatakan permasalahanya adalah sebagian besar siswa Indonesia mengakui bahwa yang mereka kejar nilai bukan ilmu, artinya mereka lebih mendahulukan nilai baru memikirkan ilmu. Ada dua alasan kenapa hal ini terjadi yaitu sistem dan lingkungan. Sistem pendidikan Indonesia menuntut nilai yang tinggi bukan ilmu yang tinggi. Memang sistem pendidikan di seluruh dunia menuntut nilai yang tinggi, namun guru-guru di luar negeri bisa menanamkan konsep yang lebih kuat bahwa ilmu adalah yang terpenting dan nilai adalah nomor 2. Inilah yang tidak mampu diatasi guru di Indonesia, sehingga pola pikir siswa terpengaruh dengan sistem yang ada bahkan siswa terpicu untuk melakukan hal-hal negatif untuk mendapatkan nilai yang tinggi. Lebih parahnya lagi, beberapa orang tua tidak menyadarkan anaknya dan malah melakukan hal-hal buruk lainnya agar anaknya bisa memperoleh nilai yang tinggi. Tentu saja hal ini terjadi karena sistem pendidikan dan orientasi siswa Indonesia telah rusak sejak dulu. Sehingga kerusakan ini terus berlanjut seperti rantai hingga sekarang, dan segelintir orang yang justru menikmatinya. Artinya lingkungan disekitar siswa juga mendukung konsep ini karena dari dahulu kala konsep inilah yang tertanam. Hingga perguruan tinggi, konsep ini terus tertanam pada sebagian mahasiswa, padahal perguruan tinggi adalah tempat ilmu bukan nilai.
        Satu lagi konsep pendidikan yang salah adalah : siswa diberi tugas untuk menguasai, menghafal, dan menuliskannya lagi dikertas dengan konsep pemikiran yang sama bukan menguasai, mengerti, dan menuliskannya lagi dengan pengembangan konsep pemikiran sendiri dan menambahkan hal-hal baru. Hal ini berpengaruh bagi mental siswa dan pola pikir mereka. Banyak siswa yang hanya menjadi pengikut dan tidak menjadi pencipta. Padahal kebanggaan suatu bangsa adalah ketika bangsa tersebut mampu menciptakan dan membuat pengaruh bagi dunia. Dalam pelaksanaannya pendidikan Indonesia sering menanamkan konsep yang salah, dan hal ini perlu diubah. Tenaga pendidik Indonesia masih banyak yang tidak memenuhi standar, baik ilmu yang dimiliki maupun kepribadian. Sebenarnya tenaga pendidik Indonesia banyak yang kompeten bahkan berlevel Internasional, masalahnya adalah mereka bekerja di luar negeri dengan alasan gaji yang rendah dan perintah tidak peduli dengan hal ini. Hal inilah yang jadi akar permasalahan pendidikan selain konsep pendidikan yang salah. Tenaga pendidik yang tersisa di Indonesia adalah tenaga pendidik dengan kualitas standar, dan tenaga pendidik yang berkualitas tinggi sangat sedikit presentasenya. Ditambah lagi setelah dari pendidikan tinggi, orang yang ingin mengabdikan dirinya sebagai tenaga pengajar sangat sedikit, sehingga yang menjadi tenaga pengajar benar-benar sedikit dan kebanyakan justru tidak memenuhi kuota pendidik yang ada, sehingga pada akhirnya direkrutlah tenaga pendidik yang biasa-biasa saja (hal ini sering terjadi di lembaga pendidikan negeri). Di lain hal, tenaga pendidik berkualitas yang mampu direkrut tidak ditempatkan secara merata di Indonesia, namun kebanyakan ditempatkan di pulau Jawa. Hasilnya, pendidkan yang diterima di Indonesia Timur cukup jauh bedanya dengan yang diterima di Indonesia Barat
Mayoritas penduduk Indonesia tidak merasakan perguruan tinggi. Kenapa? Alasannya adalah biaya, apalagi tingkat kemiskinan Indonesia yang tinggi, dan dana beasiswa dan keringanan biaya pendidikan tinggi yang terkesan ditutup-tutupi baik oleh pemerintah pusat maupun daerah.
Masalah rumit lainnya adalah negara yang lebih maju yang sadar dengan potensi siswa dan masyarakat Indonesia. Banyak siswa-siswa berprestasi Indonesia yang diberikan beasiswa cukup besar bahkan biaya hidup selama di begara tersebut. Begitu juga halnya dengan kaum akademisi dari Indonesia, banyak yang dibayar mahal untuk mengajar di luar negeri. Hasilnya Indonesia terpuruk dan banyak potensi yang disia-siakan. Pada dasarnya sumber daya manusia Indonesia tidak kalah dengan luar negeri, bahkan dalam Olimpiade Internasional, Indonesia sudah sering mendapat juara, namun kesadaran pemerintah dalam merekrut dan memperhatikan orang-orang seperti inilah yang membuat banyak kaum terdidik dan kompeten Indonesia yang bekerja di luar negeri dimana kehidupan dan harta mereka terjamin.

Untuk mengatasi problem pendidikan Indonesia diatas :
         yaitu yang pertama kita harus merubah pola pikir tentang nilai yang didahulukan bukan ilmu, konsep yang harus ditanamkan adalah memperoleh nilai yang bagus bukan yang tinggi. Karena dalam KBBI, bagus berarti baik sekali dan tinggi berarti jauh diantaranya dari sebelah bawah dan bahkan ada definisi negatif yaitu sombong. Guru harus menekankan kata bagus bukan kata tinggi, dan perlu ada penjelasan bahwa ilmu lebih penting daripada nilai yang tinggi sebab dalam dunia pekerjaan hal yang diperlukan adalah ilmu bukan nilai yang tinggi. Orang dengan nilai yang tinggi namun tidak berilmu akan jatuh dengan sendirinya, namun orang dengan nilai yang tidak terlalu tingi tetapi ia berilmu akan sukses dikemudian hari.
        Yang kedua harus ditanamkan konsep siswa belajar untuk menciptakan sesuatu, bukan hanya mengikuti apa yang tertulis dibuku. Jika konsep ini berhasil ditanamkan, perubahan besar akan terjadi dan kemajuan bangsa akan naik pesat, karena mental pencipta adalah aset berharga bagi suatu bangsa dan sangat dihargai diseluruh dunia.
        untuk membuat kualitas pendidikan Indonesia maju dan berkembang dibutuhkan gerakan dari seluruh elemen bangsa, pemerintah, mahasiswa, masyarakat umum, tenaga pendidik dan organisasi-organisasi non-pemerintah. Perlu perubahan konsep dan paradigma mengenai hakikat pendidikan. Terlebih lagi transparansi dana dan bantuan pendidikan, karena keinginan masyarakat untuk memperoleh pendidikan sangat dipengaruhi oleh transparansi biaya. Sebagai kaum muda adalah suatu keharusan untuk membawa perubahan dan angin segar bagi segala aspek dimana kita terlibat, mulai dari hal kecil kita bawa perubahan, dari suatu tulisan kita bawa pergerakan. (artikel Imanuel M. Rustijono’s Site).

Selasa, 06 Januari 2015

Banner



  

Filosofi Kopi


Filosofi kopi


      Kunci menikmati kopi bukanlah seberapa bagus cangkirnya tetapi seberapa bagus kualitas kopinya. Hidup kita seperti kopi, cangkirnya adalah pekeerjaan, jabatan, dan harta yang kita miliki. Ketika orang-orang di persilahkan untuk memilih cangkir kopi yang akan mereka gunakan, mereka cenderung memilih cangkir yang bagus. Sementara yang tersisa adalah cangkir yang murahan dan tidak menarik. Memilih hal yang terbaik adalah hal yang wajar dan manusiawi. Persoalannya, ketika tidak mendapat cangkir yang bagus maka perasaan akan terganggu secara otomatis kita akan membandingkan cangkir yang kita pegang dengan cangkir orang lain. Pikiran terfokus pada cangkir padahal yang kita minum kopinya bukan cangkirnya. Selera tiap orang dalam menikmati kopi berebeda-beda apakah itu kopi hitam, kopi susu, coffee latte, capucino, kopi tubruk dan lain-lain. Ada juga penikmat kopi panas ataupun dingin, kopi pahit atau manis semua tergantung selera masing-masing. Dan yang pasti pada dasarnya kopi memiliki aroma dan rasa yang khas, tidak terpengaruh oleh cangkir atau gelasnya. Kita terlalu sibuk melihat “cangkir” orang lain, padahal kita sedang meminum ‘kopi” yang sama. Kualitas hidup seharusnya bukan berdasarkan seberapa tinggi jabatan dan seberapa harta yang kita miliki, tetapi selama bisa mensyukuri apa yang kita miliki tidak akan pernah ada kata kekurangan ataupun protes apalagi korupsi. Kualitas hidup kita ditentukan oleh “apa yang ada didalam”  bukan “apa yang kelihatan dari luar”. Apa gunanya kita memiliki segala sesuatu tapi tidak merasakan sukacita, kedamaian dan kebahagiaan di dalam hidup kita. Itu sangat menyedihkan, sama seperti kita menikmati kopi basi yang disajikan di sebuah cangkir yang mewah dan mahal.



Refernsi :


https://www.facebook.com/WaroengKopiPrijaji/posts/413835265339457